Skyscraper
Skyscraper

Halusinasi Amsor Sebabkan 12 Orang Tewas

foto

Administrator

Ilustrasi

Fakta Indonesia News.Com -- Kecelakaan beruntun di Tol Cipali memakan korban tewas 12 orang.

Hal ini disebabkan halusinasi penumpang bus Safari, Amsor, yang merasa akan dibunuh sopir dan kondektur.

Padahal, perasaan tersebut diduga akibat gangguan jiwa yang diidapnya.

Penyakit gangguan jiwa itu diketahui setelah Amsor melakukan pemeriksaan piskologis.

Ia diperiksa psikolog dari Mabes Polri dan Polda Jabar, Kamis (20/6/2019).

"Hasil tim psikologis menyampaikan Amsor mengalami gangguan kejiwaan tertentu," ujar Kapolres Majalengka AKBP Mariyono yang dilansir dari TribunJabar.id.

Disebutkan, gangguan jiwa itu mengarah pada gangguan paranoid, psikotik, dan neurotik.

Melansir dari laman Alodokter, gangguan paranoid merupakan perasaan curiga dan takut secara berlebihan.

Biasanya, penderita paranoid kerap menganggap kondisi di sekitarnya berbahaya.

Ia bahkan bisa menganggap dirinya akan disakiti orang lain di sekitarnya.

Gejala yang muncul yakni ketidakpercayaan terhadap orang lain.

Kemudian, ia akan berpikir orang lain ingin menyakitinya atau mempunyai motif tersembunyi.

Ia akan cepat marah dan lebih memilih bermusuhan.

Selain itu, ia kesulitan untuk bekerja dengan orang lain.

Tak hanya itu, gangguan paranoid pun bisa membuat penderitanya kesulitan memahami masalah sendiri dan cenderung sensitif.

Untuk gangguan psikotik, dituliskan Dokter Lili pada kanal tanya jawab, disebut sebagai gangguan jiwa yang membuat penderitanya tak bisa membedakan mana kehidupan nyata dan mana isi pikirannya sendiri.

Biasanya jenis gangguan jiwa yang diidapnya adalah skizofrenia.

Sebagai informasi, skizofrenia merupakan gangguan mental berkepanjangan.

Gangguan tersebut membuat penderitanya berpikir kacau dan berhalusinasi.

Ada perubahan perilaku dari penderita skizofrenia ini.

Sementara itu, untuk gangguan jiwa neurotik, berbeda dengan psikotik.

Dokter Lili menyebut, penderita gangguan jiwa neurotik tak kehidalangan kemampuan membedakan kondisi nyata dan isi pikirannya.

Jenis dari gangguan jiwa neurotik ini bermacam-macam.

Mulai dari depresi, gangguan cemas, gangguan, panik, hingga fobia.

Sebelumnya, Amsor pun disebut memiliki gangguan cemas tingkat tinggi.

Hal ini menyebabkan Amsor selalu merasa terus diawasi dan diikuti.

Masih melansir dari sumber yang sama, gangguan cemas atau anxiety disorder merupakan perasaan cemas yang menetap dalam diri seseorang.

Namun, perasaan tersebut bisa menimbulkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasanya, ada sejumlah gejala yang muncul akibat rasa cemas tak normal ini.

Mulai dari jantung berdebar dan denyut berdetak cepat, berkeringat, mual, hingga nyeri dada dan kepala.

Selain itu, tubuh bisa bergetas, tak bisa konsentrashi, dan nafasnya cepat.

Nah, gangguan cemas ini merupakan gangguan mental sehingga bisa menyebabkan depresi.

Tak hanya itu, akibatnya bisa membuat orang tersebut berpikiran untuk bunuh diri atau berpikir irasional.

Sebenarnya, gangguan kecemasan ini dibagi menjadi beberapa jenis tergantung hal yang dialami penderita.

Ada jenis gangguan kecemasan menyeluruh yang merupakan rasa cemas berbelih yang belum tentu terjadi.

Biasanya, penderita khawatir atas kesehatan, keselamatan, dan lain-lain yang sederhana, tapi perasaan cemas itu muncul secara lama, bisa lebih dari enam bulan.

Kemudian, ada pula fobia yang membuat penderitanya ketakutan pada hal atau situasi tertentu.

Selain itu, ada gangguan panik yang membuat penderitanya merasa ketakutan secara berkepanjangan, tapi tak beralasan.

Ada pula gangguan obsesif atau OCD yang mirip dengan gangguan panik, tapi lebih obsesif.

Ketakutan itu membuat penderitanya melakukan tindakan berulang untuk menangani ketakutannya.

Kemudian, ada yang disebut gangguan kecemasa sosial yang bisa membuat penderitanya memiliki kesadaran diri yang tinggi di lingkungan sosial.

Hal ini disebabkan ia merasa diawasi juga dinilai oleh orang lain.

Selain itu, penderitanya merasa takut akan perasaan malu saat berada pada situasi yang ramai karena banyak orang.

Ada juga gangguan stres pascatrauma atau PTSD, diderita orang yang mengalami hal yang berbahaya dan mengancam nyawa.


(FD)

Bagikan melalui
Berita Lainnya
18 Terduga Teroris Terkait Bom Medan Dibekuk, 3 Perakit Bom
ICW Sebut Korupsi Dana Desa Dampak dari Pengawasan yang Buruk
Oknum Polisi Lontarkan Ujaran Rasial Saat Tangkap Mahasiswa Papua
Polisi Ungkap Sketsa Pelaku Penyiraman Air Keras Siswi SMP