Minggu, 16 Desember 2018 | 17:09 WIB

Destinasi Wisata Pelancu dari Alumni Tekhnik Kimia Universitas Sriwijaya Tahun 1980

foto

Administrator

Kunjungan wisata Pelancu Alumni Tekhnik Kimia Universitas Sriwijaya Tahun 1980, di Desa Ulak Pandan, Kec. Merapi Barat, Kabupaten Lahat

LAHAT SUMSEL, Fakta Indonesia News -- Alumni Tekhnik Kimia Universitas Sriwijaya Tahun 1980 mengadakan kunjungan wisata ke Pelancu di Desa Ulak Pandan, Kec. Merapi Barat, Kabupaten Lahat pada Minggu (02/12). Dalam kunjungan wisata ini, rombongan Alumni Tekhnik Kimia Universitas Sriwijaya Tahun 1980 juga akan mengunjungi beberapa tempat wisata lainnya yang ada di lahat dan pagar alam.

Salah satu peserta, Ir. Sri Meliyana, menuturkan bahwa betapa luar biasa-nya wisata pelancu yang ada di lahat ini, di mana dulunya masyarakat di desa ini bekerja mencari bebatuan yang ada di sungai, namun saat ini mereka beralih menjadikan wisata yang ada di pelancu ini sebagai komoditas ekonomi.

“Secara historis, wisata pelancu telah membangkitkan gairah perekonomian warga desa ulak pandan, dimana dulunya masyarakat di sini bekerja mencari bebatuan di sungai, namun saat ini telah berubah menjadikan wisata pelancu ini sebagai salah satu komoditas ekonomi masyarakat setempat” paparnya Mely.

“Patut untuk diketahui teman-teman bahwa wisata pelancu, berhasil menjadi pemenang sebagai wisata kreatif terpopuler tahun 2018, menggungguli beberapa destinasi wisata lain yang ada di Indonesia dalam ajang anugerah pesona Indonesia (API) pada tahun 2018” lanjut Meli, yang merupakan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Gerindra asal dapil Sumatera Selatan II.    

Senada dengan hal tersebut, Evan Yusuf yang merupakan juru bicara sekaligus pemandu di wisata pelancu mengatakan setidaknya ada 5 (lima) hal yang menjadikan wisata pelancu dapat menjadi pemenang dalam anugerah pesona Indonesia (API) pada tahun 2018.

“Yang menjadi daya tarik sekaligus faktor pendorong wisata pelancu menjadi pemenang dalam anugerah pesona Indonesia, yakni pertama kearifan lokal yang menjadi dasar simbol serta arti nama pelancu, kedua ialah wisata pelancu yang memang hingga saat ini belum tersentuh dana pemerintah, masih mandiri baik dari sisi pengelolaan maupun pembangunan, ketiga wisata pelancu yang berbasis swakelola masyarakat, di mana melibatkan masyarakat dan karang taruna sebagai penggerak sekaligus pengelola, keempat yakni inovasi desa, yang mana dulunya daerah pelancu ini ialah tempat pembuangan sampah masyarakat, dan terakhir ialah waktu yang singkat dalam merintis wisata pelancu, dimana memerlukan waktu kurang lebih 3 bulan hingga wisata pelancu ini dapat beroperasi. Kiranya inilah beberapa hal yang menjadi keunggulan wisata pelancu” jelas Bung Evan Yusuf saat memandu wisata dari Alumni tehnik Universitas Sriwijaya.

(Salman Alvarisi)