Soal Retakan Tanah di Ciamis, Tim PVMBG Sarankan Ini..

foto

Rabbit

CIAMIS, FaktaIndonesiaNews.Com – Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Jawa Barat telah selesai melakukan penelitian retakan dan pergerakan tanah di Kecamatan Panawangan dan Kecamatan Kawali Kamis sore (14/1). Hasilnya akan keluar seminggu lagi.

Namun mereka menyarankan agar retakan tanah segera ditutup dan ada alih fungsi lahan dan kolam harus ditanami tanaman palawija atau tanaman keras.

Peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Jawa Barat Maryono saat dihubungi Radar menjelaskan hasil penelitian sementara, di dua titik di Panawangan dan Kawali ada potensi pergerakan tanah.

Di Dusun Sukamaju Desa Talagasari Kecamatan Kawali, kata dia, masih ada potensi pergerakan tanah. Namun pergerakannya lambat.

“Kalau rumah yang ada di dua kecamatan itu kalau direlokasi akan lebih baik, karena kalau enggak mau relokasi, harus ada penyesuian pola kegiatan di sana,” ujar Maryono menyarankan.

Baca juga : Diserang Tikus, Petani di Cihaurbeuti Ciamis Merugi

Pertama, kata dia, jangan ada kolam di sana. Pola tanam diganti dengan pohon yang mampu menyerap air dan berakar kuat. “Kalau bangunan di sana kalau permanen pakai tembok dikit bisa retak karena berulang dari dulu sering terjadi di Kawali itu, cuman yang tahun ini paling parahnya,” ujarnya.

Menurut Maryono, jika warga mau tetap tinggal di sana, maka dilarang ada kolam dan rumahnya jangan permanen.

“Kalau relokasi memang menyelesaikan masalah, tapi warganya pasti dengan lokasi yang baru mungkin jauh dan tidak mau, karena lokasi yang ideal jauh dari sana. Makanya kalau mau tetap tinggal di sana kalau pakai rumah panggung kalau ada pergerakan tinggal didongkrak saja, kalau permanen akan pecah,” ujarnya.

“Jadi kalau dua tahun pakai rumah permanen bisa aman, tapi kalau musim hujan lagi datang curah hujannya besar akan terjadi gerakan lagi,” kata dia menerangkan.

Sepengetahuannya, kata Maryono, pada 2018 dari tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyarankan untuk mengubah pola tanam yakni kolamnya diubah namun tidak dilaksanakan. “Sehingga sekarang terjadi lebih besar lagi, “ kata dia mengungkapkan.

Maryono mengungkapkan bahwa baru masyarakat Kawali yang diimbau melakukan perubahan pola tanam dan meniadakan kolam. Sedangkan di Desa Indragiri Kecamatan Panawangan belum. “Kalau dulu yang di Kawali itu hanya dua sampai tiga rumah namun sekarang justru tambah banyak,” ujarnya.

Bertambahnya rumah warga yang menjadi korban retakan tanah yaitu karena saat ini curah hujan cukup banyak. Beberapa tempat di Ciamis, kata dia, rawan terkena gerakan tanah. Hanya di Panawangan dan Kawali memang agak signifikan pergerakannya.

“Karena yang menjadi masalah saat ini curah hujannya di atas normal,” ujarnya. “Jadi potensi longsornya juga semakin tinggi, makanya yang rumahnya di lereng harus meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya mengimbau.

Maryono mengaku sempat berkumpul dengan masyarakat di Kawali. Mereka keberatan bila harus direlokasi. Cuman memang warganya menghendaki jangan ada kolam saja di sana, karena yang dikosongkan juga baru dua tiga kolam di sana.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk menutup retakan di sana, baik yang di kolam atau di jalan.

“Makanya kalau tidak ditutup retakan di kolam malahan nambah retakan lagi,” ujarnya.

Soal hasil penelitian secara lengkap, pihaknya, kata Maryono, belum bisa menyampaikannya sekarang, karena perlu penganalisisan.

Memang, kata dia, secara kasat mata dulu memang di lokasi tersebut banyak jenuh air. Banyak retakan-retakan juga di lokasi di sana. “Intinya di sana banyak jenuh air,” ujarnya. 

Bagikan melalui
Berita Lainnya
PT Shinta Woo Sung Diduga Abaikan K3, yang Mengakibatkan Satu Orang Meninggal Dunia
Dadang Naser Serahkan Kepemimpinan Kepada Tisna Umaran
PHL TPU Cikadut Buka-Bukaan Soal Pemakaman Jenazah
Yana Ajak Pesepeda Jaga Keselamatan dan Tertib Berlalu Lintas