Kisruh Hasil Swab Test dari RSUD SMC Tasik

foto

Rabbit

Tasikmalaya, FaktaIndonesiaNews.Com – Kegaduhan soal Covid-19 terjadi di Kampung Bolodog Desa Linggawangi Kecamatan Leuwisari. Pasalnya ada warga atas nama Atat Maryati (56) tiba-tiba dinyatakan positif virus corona berdasarkan surat hasil laboratorium swab test yang dikeluarkan RSUD SMC. Padahal, Atat belum sama sekali dilakukan swab.

Menyikapi hal tersebut, pihak keluarga Atat tidak menerima atas kekeliruan yang dilakukan pihak rumah sakit. Dani, menantu Atat menuturkan bahwa dirinya sampai memposting surat hasil swab mertuanya yang dinyatakan positif ke media sosial Facebook, karena pihak keluarga tidak merasa bahwa Atat mengikuti swab yang dilaksanakan di Puskesmas Leuwisari, Kamis (21/1) lalu.

“Mertua saya kebetulan Kamis (21/1) itu tidak ikut swab karena berhalangan pergi ke sawah. Kalau saya sama bibi saya, iya ikut di-swab dijemput sama mobil desa ke Puskesmas Leuwisari,” ujarnya kepada Radar, Minggu (24/1).

Kata dia, ketika hasil swab keluar dari Laboratorium Klinik RSUD SMC hasilnya negatif. Namun, yang menjadi aneh adalah mertua saya, Atat tiba-tiba keluar juga hasil swab positif. Padahal tidak mengikuti swab yang dilakukan oleh Puskesmas Leuwisari. “Kan aneh sekali,” keluhnya.

Menurut dia, sebelum pelaksanaan swab, keluarga menyampaikan kepada kepala Desa Linggawangi bahwa Atat tidak bisa hadir karena pergi ke sawah. “Namun, untuk nama saya, bibi sama mertua sudah ada datanya di sana (Puskesmas, Red) melalui desa untuk di-swab,” terang dia.

Dani pun merasa aneh ketika bersama bibinya swab di Puskesmas Leuwisari, nama mertuanya Atat masih tercatat di dalam data warga yang akan mengikuti swab massal pada saat itu, padahal mertuanya tidak hadir karena pergi ke sawah.

“Pas saya lihat kok ada nama mertua saya masih tercatat, sedangkan mertua saya tidak hadir untuk di-swab. Akhirnya hasil swab mertua saya keluar dan dinyatakan positif Covid-19 oleh orang di kampung, sementara swab juga belum, jadi bisa dibilang pencemaran nama baik,” kata dia.

Setelah ramai, kata dia, ada dari pemerintah desa datang dan menyarankan mertua untuk kembali mengikuti swab. Namun, keluarga meminta agar hasil swab yang menyatakan positif Covid-19 itu diperbaiki dulu, karena belum pernah dilakukan swab sama sekali.

Kepala UPT Puskesmas Leuwisari Didin Budiana mengatakan, sebelum pelaksanaan swab, puskesmas sudah memasukan data warga yang akan di-swab ke sistem.

“Nah, begitu Ibu Atat tidak hadir, namun nama beliau (Atat, Red) sudah ada di Viral Transport Medium (VTM) atau data untuk menyimpan sampel pemeriksaan swab Covid- 19-nya tetap kita masukan. Akan tetapi tanpa spesimen. Kemudian disampaikan ke RSUD SMC,” kata dia.

Pada intinya, terang dia, tugas setelah puskesmas melaksanakan swab, maka yang disampaikan ke RSUD SMC adalah data nama dan hasil spesimen sampel swab yang telah dilaksanakan, sedangkan yang mengeluarkan surat positif atau tidaknya itu RSUD SMC.

“Jadi kita akan perbaiki prosedur dan prosesnya, ketika ada kesalahan, termasuk dalam penyajian data dan sinkronisasi kehadiran warga yang di-swab dengan PCM dan hasil spesimen swab-nya. Kita akan audit internal Puskesmas, sampai proses di RSUD SMC bisa keluar seperti itu,” papar dia.

Bahkan, tambah dia, Puskesmas Leuwisari sudah mencoba berkomunikasi dengan kepala Desa Linggawangi termasuk pihak keluarga Ibu Atat mengenai kejadian ini. Sehingga ada ketidak sinkronan antara hasil swab. “Sebetulnya dari kita secara resmi mengeluarkan hasil swab ini belum, jadi biasanya ada kroscek dulu ke RSUD SMC. Namun hasil swab ini sudah terlanjur menyebar di media sosial,” kata dia.

Rencananya, tambah dia, Senin (25/1) Puskesmas Leuwisari akan menemui kembali keluarga Ibu Atat untuk mengklarifikasi soal kejadian ini. “Sekalian juga kita ada yang bebas Isoma (isolasi mandiri, Red) di wilayah sana,” kata dia.

Selanjutnya, kata dia, Ibu Atat ini tetap akan mengikuti swab karena sempat berinteraksi dan kontak erat dengan yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebelumnya di wilayah tersebut. Direktur Utama (Dirut) RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya dr Iman Firmansyah MMKes menjelaskan, dalam menyikapi kejadian ini, pihak rumah sakit pada intinya tidak langsung memeriksa pasien atau warga yang di-swab.

Baca juga : PDIP, Gerindra, PKB & NasDem Jajaki Kesepahaman Pilwalkot Tasik

“Kami itu menerima sampel yang dikirim oleh puskesmas melalui Dinas Kesehatan yang sebelumnya harus mengisi all record. Setelah ada all record nanti muncul pengisian C1, kemudian memasukan nomor induk kependudukan (NIK) KTP-el,” jelas dia.

Setelah itu, kata dia, muncul di data RSUD SMC seperti nama, NIK, all record dan C1 sudah diisi berikut sampel Viral Transport Medium (VTM) untuk menyimpan sampel pemeriksaan swab Covid- 19 yang dikirimkan puskesmas atas nama Ibu Atat tersebut.

“Sehingga kami memeriksa sampel VTM yang ada, sampai hasilnya keluar. Adapun itu yang terjadi, sampelnya menjadi punya siapa, itu tidak menjadi tanggung jawab rumah sakit, karena kami sekali lagi tidak memeriksa pasien, sesuai SOP yang masuk ke kami,” terang dia.

Kemudian, lanjut dia, sampelnya atas nama Ibu Atat itu dari puskesmas ada, termasuk VTM-nya juga ada tertera. Pada intinya, sekarang tinggal mengkonfirmasi dari Puskesmas Leuwisari ke Dinas Kesehatan.

“Mengkonfirmasi kenapa sampai datanya masuk orangnya tidak terperiksa dan sampel yang ada di kami itu sampel atas nama siapa?. Karena sudah jelas VTM yang harus diperiksa oleh Laboratorium PCR kami ada, atas nama tersebut (Atat, Red), walaupun diketahui ada salah memasukan sampel yang siapa atau siapa, itu kan harus dikonfirmasi dengan yang mengirim sampel ke kami,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk mengetahui milik siapa sampel VTM tersebut, jadi ketika Atat tidak merasa diperiksa, kemungkinan dari Puskesmas Leuwisari itu mengisi all record data warga yang akan di-swab terlebih dahulu.

“Jadi misalnya ada 40 orang yang akan diperiksa swab, sebelum memeriksa pasien mereka (Puskesmas, Red) ingin cepat mengisi data dulu, data KTP-nya dimasukan dan segala macamnya. Pada saat pemeriksaan bisa saja orang yang sudah dimasukan ke data all record itu tidak terperiksa,” jelasnya.

Kalaupun ada sampel yang hasil swab-nya menjadi positif, tambah dia, banyak faktor juga, seperti contoh terinfeksi oleh yang lain, seperti memakai sarung tangannya hanya satu tidak diganti. “Ya itu yang negatif bisa menjadi positif, kalau tangan yang memegangnya positif Covid-19,” tambah dia. 

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Kapolsek Cikande Lakukan Takziah Bersama Muspika Kecamatan Cikande ke Rumah Duka Tokoh Ulama Serang
Pemerintahan Desa Songgom Jaya Salurkan Bantuan Banjir Luapan Air Sungai Cidurian
Kapolda Sulbar Raih Penghargaan Kak Seto Award, POLIS Award dan Rekor MURI di Jakarta
Kota Serang Zona Merah Covid-19, Polres Serang Kota Bagi Masker