FAKTA ADS
FAKTA ADS

Pembelajaran Tatap Muka Harus Utamakan Keselamatan Peserta Didik

foto

KOTA BANDUNG, FaktaIndonesiaNews.Com - SMA / SMK di Kota Sukabumi melaksanakan kegiatan belajar mengajar tatap muka setelah berstatus zona hijau. Meski begitu, pelaksanaan pembelajaran tatap muka harus pula mengutamakan keselamatan dan kesehatan peserta didik di tengah pandemi. 

Disdik Jawa Barat (Jabar) 

"Kami harus melihat mengubah zona Kota Sukabumi. Ini tidak bisa dilihat dalam satu pekan. Kami akan mengubah status di sana. Jika berstatus aman zona hijau, akhir Juli akan mengevaluasi. Kemudian, kami akan membuat keputusan, mempelajari tatap muka di Kota Sukabumi dapat dilaksanakan, "kata Dedi, Senin (13/7/20). 

Dedi melaporkan, 39 SMA / SMK di Kota Sukabumi sudah meminta kesiapan pembelajaran tatap muka. Pengajuan itu dikirimkan ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jabar. Kemudian, diminta ke Gugus Tugas Kota Sukabumi untuk dilihat indikator-indikator pembelajaran tatap muka terpenuhi. 

Ada dua indikator besar yang sudah diterbitkan SMA / SMK Kota Sukabumi. Pertama, menerapkan protokol kesehatan dalam mempersiapkan pembelajaran tatap muka. Kedua, jumlah siswa yang bertempat tinggal di luar Kota Sukabumi, yaitu sekitar 52 persen.

"Gugus Tugas Kota Sukabumi sudah mengatur jumlah siswa dalam satu kelas, yaitu 12 orang. Sif pembelajaran sudah ditentukan juga. Satu pekan kelas 10, pekan lanjutan kelas 11, dan kelas 12. Semua persiapan sudah dilakukan dengan benar," ucapnya. 

Terpenuhinya kedua indikator tersebut ditambah izin dan infrastruktur sekolah tak lantas dilakukan di Kota Sukabumi. Sebab, kata Dedi, pihaknya menerapkan prinsip kehati-hatian mana keselamatan dan kesehatan peserta didik diutamakan. 

"Mengijinkan perlindungan penuh, di lingkungan sekolah, izin sekolah, infrastruktur sekolah. Yang belum memiliki konsistensi Kota Sukabumi berada di zona hijau," katanya.

Maka itu, seluruh SMA / SMK di Jabar masih melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran secara penuh, termasuk Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2020/2021 pada Senin (13/7/20). 

Disdik Jabar sendiri sudah mengadakan survei untuk orang tua dan peserta didik terkait dengan pendampingan yang dilakukan selama PJJ. Menurut Dedi, dari survei itu terangkum tujuh tantangan besar yang diterima orang tua maupun peserta didik. 

Pertama adalah orang tua terbebani kuota internet. Kemudian, orang tua kesulitan mendampingi anak dalam belajar dengan berani. Ketiga, orang tua berharap anak mandiri mengikuti PJJ. 

"Kemudian peserta didik mengharapkan pembelajaran dari tidak dapat menyelesaikan tugas. Yang menjadi peserta didik adalah materi yang disampaikan harus komunikatif dan kontekstual. Orang tua dan siswa sulit berkomunikasi langsung dengan guru. Terakhir, ada beberapa SMA / SMK yang tidak memiliki akses internet," ucap Dedi. 

Dari berbagai tantangan yang dihadiri orang tua dan peserta didik, kata Dedi, pihaknya sudah ikut bertarung. Tujuannya Belajar, berani berjalan optimal. 

"Kami menempatkan siswa, orang tua, pengawas, dan guru, masing-masing memiliki tugas. Kemudian semua pihak harus berinovasi, terutama guru dalam menangani bahan interaktif. Kami juga telah mengalokasikan biaya internet melalui dana BOS," katanya. 

Dedi mengatakan, untuk menyelesaikan masalah infrastruktur teknologi atau akses internet, pihaknya mengirim modul-modul ke rumah peserta didik melalui PT Pos Indonesia. Kemudian, guru ada yang datang ke rumah peserta didik dengan tetap menggunakan protokol kesehatan. 

"Ada beberapa modul yang dikirim ke siswa yang kosong melalui PT Pos. Kalau seandainya guru harus melihat-lihat peserta didik dengan tetap terapkan protokol kesehatan. Itu yang kami lakukan dapat mendorong pembelajaran tetap berjalan optimal," ucapnya. 

Dediahkan, komunikasi orang tua, guru, dan peserta didik amat krusial dalam pembelajaran berani. Maka itu, ia mengimbau semua pihak untuk menggunakan aplikasi termudah, seperti aplikasi pesan singkat, dalam menyediakan materi pembelajaran dan forum tanya jawab. 

"Bagaimana cara belajar tetap berjalan, tetapi tidak tatap muka. Alasan, kami utamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, Pada akhirnya, komunikasi sangat penting dalam pembelajaran yang berani melalui teknologi komunikasi yang mudah diakses," kata Dedi. 

Bagikan melalui
Berita Lainnya