Kamu Selingkuh? Kesehatan Mental Kamu Terganggu

foto

-Gambar ilustrasi

FaktaIndonesianews.com | Jakarta - Selingkuh ternyata masuk ke dalam kategori gangguan kesehatan mental. Ini merujuk pada faktor risiko penyebab orang selingkuh, yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang.

Permasalahan dalam hubungan asmara tentu ada banyak jenisnya. Salah satunya adalah, menghadapi isu perselingkuhan yang dilakukan pasangan. Ada banyak alasan mengapa orang yang sudah menikah berani selingkuh. Bahkan menurut Psych Central, lebih dari 40% pasangan yang sudah menikah pernah terdampak oleh perselingkuhan, meski diakibatkan oleh micro cheating.

Penyebabnya pun dapat dipicu oleh banyak faktor, mulai dari gangguan kepribadian, pengalaman di masa lalu, hingga perkembangan zaman seperti media sosial.

Selingkuh Termasuk Gangguan Kesehatan Mental

Menurut laman Very Well Health, rupanya selingkuh masuk ke dalam kategori gangguan kesehatan mental. Hal itu merujuk pada faktor risiko penyebab orang selingkuh yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang. Berikut sejumlah alasan selingkuh termasuk gangguan mental.

Beberapa penyebab selingkuh akibat pengalaman masa kecil adalah trauma di masa kanak-kanak. Dalam hal ini, anak-anak yang memiliki riwayat trauma pada masa kecilnya seperti pelecehan, pengabaian secara fisik dan emosional, dikaitkan risiko tinggi orang tersebut akan selingkuh pada saat dewasa. Sebuah studi pada 2015 juga menemukan fakta, bahwa anak-anak yang mengalami dan melihat kasus perselingkuhan dari orangtuanya juga memiliki risiko yang sama.

Gangguan Mental.

Beberapa penyakit mental seperti gangguan bipolar dikaitkan sebagai faktor risiko perselingkuhan di dalam pernikahan. Selain itu, ada perilaku yang menyatakan bahwa “Sekali selingkuh maka, akan selingkuh terus menerus”, ternyata itu bukanlah sebuah anggapan semata.

Pada sebuah studi di tahun 2017 menunjukkan bahwa mereka yang terlibat dalam perselingkuhan, kemungkinan untuk selingkuh lagi tiga kali lebih tinggi untuk mengulangi perilaku yang sama. Hal ini erat kaitannya dengan masalah psikologis atau gangguan mental seperti narsisme.

Pada gangguan tersebut, perselingkuhan didorong oleh rasa ego dan perasaan harus dikagumi. Selain mementingkan diri sendiri, pengidap gangguan ini seringkali tidak memiliki empati, sehingga tidak menghargai kehadiran pasangan dan dampak dari tindakannya terhadap sebuah hubungan.

Dampak Jangka Panjang dari Perselingkuhan

Dampak jangka panjang perselingkuhan tersebut dapat terjadi pada siapa saja, baik pria maupun wanita. Selain itu, perselingkuhan juga dapat menimbulkan stres berkepanjangan yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik.

Jika seseorang telah diselingkuhi, mungkin hal ini akan membuat dirinya membutuhkan waktu lama untuk kembali pulih. Sebab, ada beberapa dampak jangka panjang dari perselingkuhan yang perlu diketahui, antara lain:

1. Menimbulkan Gejala yang Serupa dengan PTSD

Perselingkuhan dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan stres pasca-trauma atau PTSD. Beberapa gejala umum mungkin termasuk kilas balik, mimpi buruk, dan obsesi tentang peristiwa menyenangkan yang dilalui dengan pasangan yang selingkuh. Seseorang yang diselingkuhi juga mungkin mengalami hyperarousal dan menjadi reaktif pada setiap ancaman yang dirasakan terhadap diri sendiri atau hubungan. Akibatnya, orang tersebut bisa mengalami gangguan pola tidur dan makan.

2. Kesulitan Mempercayai Seseorang

Ketika suatu hubungan berakhir akibat perselingkuhan, ada lapisan yang hancur dan mempengaruhi kepercayaan yang telah seseorang miliki. Pasalnya, urusan fisik dan emosional memegang kunci utama dalam suatu hubungan, yaitu kepercayaan. Ketika diselingkuhi, orang tersebut akankesulitan mempercayai pasangan. Bahkan, perselingkuhan juga dapat menyebabkan masalah kepercayaan dalam hubungan baru di masa depan. Alhasil, seseorang bisa saja tidak ingin terlibat di dalam hubungan baru karena takut dikhianati atau kecewa.

3. Melemahnya Kepercayaan Diri

Dampak jangka panjang dari perselingkuhan lainnya adalah hilang atau melemahnya kepercayaan diri seseorang. Sebab, orang yang diselingkuhi menjadi cenderung membandingkan dirinya dengan selingkuhan sang mantan.

Selain itu, merasa telah digantikan oleh orang yang dianggap lebih baik, juga dapat melemahkan rasa kepercayaan diri seseorang yang diselingkuhi. Kondisi ini menjadikan seseorang tidak hanya terluka

tetapi mungkin juga sangat trauma dengan tindakan yang dilakukan pasangan yang selingkuh.

Meski begitu, setiap orang perlu menyadari bahwa selingkuh merupakan keputusan masing-masing individu. Maka dari itu, jika pasangan berselingkuh, tanamkan pada dirimu bahwa itu memang keputusannya untuk berkhianat, bukan karena kekurangan dirimu.

4. Berdampak pada Otak

Jatuh cinta memiliki keterkaitan dengan pelepasan hormon dopamin yang dapat memicu perasaan euforia, sehingga dapat menimbulkan adiksi. Namun, ketika seseorang merasakan sakit hati akibat perselingkuhan, hal ini dapat memicu perubahan pada jalur pelepasan bahan kimia pada otak yang mirip dengan gejala sakau pada pengguna narkoba.

Bagikan melalui
Berita Lainnya